Jurus Sakti Menggugah Motivasi Siswa dalam Belajar


Motivasi merupakan satu unsur paling penting dari pengajaran efektif. Motivasi juga merupakan komponen yang sukar untuk diukur karena setiap orang mempunyai motivasi berbeda-beda dan  naik-turun. Ahli psikologi pendidikan mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses internal yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam waktu tertentu (Baron, 1992; Schunk, 1990 dalam Nur, 2008). Pendeknya, motivasi adalah apa yang membuat seseorang berbuat, membuat seseorang tetap berbuat, dan menentukan ke arah mana yang hendak diperbuat.

Dalam sekolah, semua siswa pada umumnya termotivasi. Termotivasi untuk melakukan apa? Sejumlah siswa lebih termotivasi untuk bermain game online atau melihat sepak bola daripada mengerjakan tugas sekolah. Beberapa siswa juga lebih termotivasi untuk facebook-an dan tweeter-an daripada belajar di rumah. Lalu bagaimana tugas seorang guru? Tugas guru bukan meningkatkan motivasi itu sendiri tetapi menemukan, menggugah, dan mempertahankan motivasi siswa untuk belajar dan terlibat akivitas dalam pembelajaran di kelas.

Belajar memerlukan usaha untuk mencapai hasil yang maksimal. Siswa mendapatkan hasil dari setiap mata pelajaran yang diikuti sebanyak usaha yang telah dicurahkan untuk mata pelajaran itu. Siswa yang termotivasi untuk belajar akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi, sehingga siswa akan menyerap materi lebih baik (Graham & Golan, 1991 dalam Nur, 2008).

Memotivasi siswa agar mengerahkan upaya untuk belajar dapat dilakukan dengan  motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik cenderung pada nilai motivasional dari isi pelajaran yang dipaparkan. Terkadang suatu ata pelajaran begitu asyik dan menyenangkan bagi siswa sehingga mereka mau untuk mengerjakan tugas dari mata pelajaran itu. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berhubungan dengan penggunaan pujian, balikan (feedback), dan insentif (ganjaran). Banyak dari apa yang dipelajari di sekolah tidak dengan sendirinya mengasyikkan dan menarik bagi siswa. Sethi, Drake, Dialdin, & Lepper (1995) menyatakan bahwa motivasi instrinsik siswa umumnya menurun mulai dari kelas-kelas awal sekolah dasar sampai sekolah menengah. Oleh karena itu, banyak sekolah yang menerapkan berbagai macam motivasi ekstrinsik, ganjaran untuk belajar yang tidak melekat di dalam materi pelajaran yang dipelajari.

Eksperimen yang dilakukan Lepper (1973) tentang dampak ganjaran ekstrinsik terhadap motivasi instrinsik dalam suatu aktivitas. Berikut adalah gambaran singkat eksperimen Lepper pada anak-anak prasekolah dalam aktivitas menggambar. Mereka menggambar dengan sangat antusias. Kemudian Lepper dkk membagi secara acak anak-anak dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diberi tahu akan menerima hadiah apabila menggambar seorang pengunjung. Kelompok kedua diberi hadiah yang sama sebagai kejutan (tidak bergantung kepada lukisan anak). Kelompok ketiga tidak menerima hadiah atas gambarannya. Selama empat hari berikutnya, pengamat mencatat kegiatan bermain bebas anak-anak tersebut. Anak-anak yang menerima hadiah menghabiskan waktu untuk menggambar sekitar setengah dari waktu yang dihabiskan oleh anak-anak yang mendapatkan hadiah sebagai kejutan dan anak-anak yang tidak mendapatkan hadiah. Peneliti menyimpulkan bahwa menjanjikan ganjaran ektrinsik (hadiah) untuk suatu kegiatan yang secara instrinsik menarik dan mengasyikkan dapat merusak minat instrinsik dengan membaut siswa mengharapkan suatu hadiah untuk melakukan apa yang pada mulanya dilakukan untuk tidak menerima sesuatu. Penelitian selanjutnya yang dilakukan Greene & Lepper (1974) juga menemukan bahwa hanya dengan memberi tahu bahwa mereka akan diamati memiliki pengaruh yang merusak serupa dengan pengaruh hadiah yang dijanjikan.

Cameron & Pierce (1994) mencoba mengulang dan mereplikasi eksperimen Lepper (1973) dan menyatakan bahwa siswa-siswa yang lebih dewasa mengerjakan tugas-tugas yang lebih menyerupai tugas-tugas sekolah pada umumnya telah gagal mereplikasi eksperimen Lepper. Pada kenyataannya, penggunaan ganjaran lebih sering meningkatkan motivasi instrinsik, khususnya apabila ganjaran (hadiah) lebih ditentukan oleh kualitas kinerja daripada sekedar peran serta dalam suatu aktivitas (Deci & Ryan, 1987).

Untuk itu, penelitian tentang pengaruh ganjaran (hadiah) ekstrinsik terhadap motivasi instrinsik menganjurkan untuk berhati-hati dalam hal penggunaan ganjaran material untuk tugas-tugas yang menarik dan mengasyikkan secara instrinsik. Lepper (1983) menyatakan bahwa guru hendaknya berupaya membuat segala sesuatu yang mereka ajarkan semenarik mungkin secara instrinsik dan hendaknya menghindari pemberian ganjaran material apabila tidak diperlukan, namun hendaknya jangan menghentikan pemberian ganjaran ekstrinsik apabila diperlukan. Hal ini ditegaskan oleh Stipek (1993, dalam Nur 2008) yang menyatakan bahwa hadiah ekstrinsik mungkin diperlukan untuk memicu siswa memulai aktivitas belajar namun dapat dihapus setahap demi setahap pada saat siswa sudah mulai menikmati aktivitas tersebut dan berhasil menyelesaikannya.

Sumber:

Slavin, Robert E. 1997. Educational Psychology Theory and Practice Nine Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Lepper, M.R. 1983. Extrinsic Reward and Intrinsic Motivation: Implications for the Classroom. In J. M. Levine & M. C. Wang (Eds), Teacher and Student Perceptions: Implications for Learning (pp. 281-317). Hillslade, NJ: Erlbaum.

Nur, M. 2008. Pemotivisian Siswa untuk Belajar Cetakan Ketiga. Surabaya: PSMS Unesa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s