Jigsaw I dan Jigsaw II, what is different?


Bagaimana guru dapat memotivasi seluruh siswa untuk belajar dan membantu saling belajar satu sama lain? Dalam sebuah kelas, terdapat siswa yang pandai berpendapat, tetapi ada juga siswa yang pasif dan cenderung bergantung pada siswa lain ketika diskusi kelompok. Bagaimana guru mengorganisir situasi ini? Solusi dari masalah tersebut adalah melalui model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di kelas dan menghindarkan dari kelas yang seperti kuburan (sunyi dan sepi selama pembelajaran). Salah satu dari tipe model pembelajaran kooperatif adalah jigsaw. Pertanyaannya, apakah perbedaan antara jigsaw I dan jigsaw II?

Jigsaw I dan II sebenarnya sama, namun ada beberapa aspek yang membedakannya. Jigsaw II merupakan sebuah adaptasi dari teknik jigsaw Elliot Aronson (1978). Jigsaw II dalam hal ini juga membantu siswa belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang komoleks. Seperti halnya pada jigsaw I, setiap siswa menjadi ahli dalam materi yang dipelajarinya dan bertanggungjawab atas materi yang ditugaskan.

Sintaks  Model Pembelajaran Jigsaw II (Aronson, 1978)
1. Peserta didik dikelompokkan, masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang
2. Tiap peserta didik dalam tim mendapatkan materi yang sama, dan membaca semua materi
3. Tiap peserta didik dalam tim berbagi tugas untuk membagi materi (sub bab mereka)
4. Anggota dari tim yang mendapatkan bagian materi yang berbeda, bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kelompok kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup

Modifikasi Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw II
1. Guru menulis topik pembelajaran
2. Guru menulis tujuan pembelajaran
3. Peserta didik dikelompokkan, masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang
4. Tiap peserta didik dalam tim mendapatkan materi yang sama tentang macam-macam klasifikasi
5. Tiap peserta didik dalam tim mendapatkan masalah/pertanyaan yang berbeda yang berkaitan dengan macam-macam klasifikasi
6. Anggota dari tim yang mendapatkan masalah yang berbeda, bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan tugas mereka
7. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggoata kembali ke kelompok asal dan bergantian menyampaikan jawaban dari pertanyaan yang telah didiskusikan di kelompok ahli. Tiap anggota lainnya mendengarkan dan memberikan tanggapan
8. Guru meminta kepada tiap kelompok tim ahli untuk mempresentasikan hasil diskusi
9. Peserta didik melaksanakan diskusi kelas
10. Guru memberikan penguatan pada hasil diskusi
11. Guru membimbing peserta didik mengambil kesimpulan

Sepintas sintaks model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II hampir sama dengan jigsaw I, tetapi ada beberapa perbedaan penting. Salah satunya dalam jigsaw II, siswa membaca semua materi karena dapat membantu mereka untuk mendapatkan gambaran besar sebelum mereka membaca kembali untuk menemukan informasi yang berkaitan dengan topik yang ditugaskan. Apabila siswa harus membaca di kelas, bacaan tersebut harus dapat diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari setengah jam. Kelebihan dari Jigsaw II adalah bahwa semua siswa membaca semua materi yang akan membuat konsep-konsep yang telah disatukan menjadi lebih mudah dipahami. Dalam Jigsaw I, siswa menerima penjelasan potongan materi dari teman dari kelompok asal. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena bisa jadi siswa tersebut belum memahami materi. Jigsaw II cocok digunakan apabila materi yang dipelajari berbentuk narasi tertulis seperti pelajaran sosial, sastra, beberapa bagian sains, dan pelajaran lain yang bertujuan lebih menekankan pada konsep daripada keterampilan. Bahan ajar Jigsaw II biasanya merupakan sebuah bab, cerita, biografi, dan bahan deskriptif lainnya.

Sumber:

Nur, M. 2008. Pembelajaran Kooperatif Cetakan Kedua. Surabaya: PSMS Unesa

Slavin, R. E. 1994. A Practical Guide to Cooperative Learning. Boston: Allyn and bacon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s