SCAFFOLDING


Belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa untuk mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan mengemukakan ide-ide cemerlang. Tugas guru di sini tidak hanya menuangkan informasi ke dalam otak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa.

Pada abad XXI ini pembelajaran sebaiknya tidak lagi terfokus pada guru (teacher centered), tetapi sudah pada tingkat pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Siswa harus dapat membangun pengetahuannya sendiri dalam otaknya. Peran guru adalah membantu proses ini dengan memberikan “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih bermakna.

Suatu revolusi sedang terjadi di dalam psikologi pendidikan yang dikenal dengan teori pembelajaran konstruktivis. Hakekat dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri (Brooks, 1990; Leinhardt, 1992; Brown et al., 1989 dalam Slavin, 2009). Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky yang menenkankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi baru.

Salah satu metode pengajaran yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah scaffolding. Konzulin & Presseisen (1995 dalam Slavin, 2009) menyatakan bahwa scaffolding merupakan dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah sebagai suatu hal yang penting dalam pemikiran konstruktivis modern.

Scaffolding adalah pemberian bantuan sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap–tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 2009). Menurut Vygotsky (1962) scaffolding merupakan bentuk bantuan yang tepat waktu yang juga harus ditarik tepat waktu ketika interaksi belajar sedang terjadi saat anak–anak mengerjakan puzzle, membangun miniatur bangunan, mencocokan gambar dan tugas–tugas pelajaran lainnya.

Scaffolding atau pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa dapat berupa gambar, petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah–masalah kedalam langkah–langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. Pemberian bantuan ini bertujuan agar siswa mampu menyelesaikan masalah–masalah yang diberikan secara mandiri. Pemberian bantuan dalam pendekatan scaffolding ini dapat berupa kelompok maupun individual. Bantuan diberikan berkelompok apabila siswa menemukan masalah dan kesulitan yang sama. Sedangkan bantuan individual diberikan apabila permasalahan yang ditemukan berbeda dengan siswa yang lain. Bantuan dilakukan ditempat khusus.

Sebagai contoh, siswa dapat diajarkan membuat pertanyaan sendiri tentang materi yang telah mereka baca. Pada awalnya guru dapat membimbing siswa dengan memberikan contoh-contoh pertanyaan, memberikan model jenis pertanyaan yang dapat diajukan siswa, tetapi selanjutnya bimibingan dari guru itu berangsur-angsur hilang seiring dengan perkembangan pengetahuan siswa sehingga mereka mampu untuk membuat pertanyaan senndiri.

Sumber:

Slavin, R.E. 2009. Educational Psychology Theory and Practice Nine Edition. USA: Pearson Education.

2 thoughts on “SCAFFOLDING

  1. Siang Pak/mas boleh beri tahu saya buku sumber tentang model pembelajaran scaffolding
    saya lagi butuh nih
    terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s