Ada Listrik di Kotoran Sapi


Menurut Ann Christy dari Ohigeso State University, kotoran sapi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik tegangan rendah. Kotoran yang dimaksud di sini adalah cairan hasil fermentasi mikroba di dalam rumen sapi. Rumen adalah kantonh pencernaan sapi di mana makanan disimpan sementara sambil diaduk terus menerus sampai dapat diuraikan.

Peneliti mengambil sari cairan rumen yang berisi mikroba dan selulosa dari sapi menggunakan pipa kecil yang dimasukkan ke dalam rumen sapi. Selanjutnya, cairan rumen ini ditampung dalam tabung gelas berukuran dua liter untuk membuat sel bahan bakar. Tabung ini kemudian dihubungkan dengan tabung kedua berisi ferricyanide dengan menggunakan bahan khusus sehingga memungkinkan elektron berpindah dari tabung negatif ke tabung positif. Aliran elektron inilah yang menghasilkan listrik.

Sel bahan bakar ini bisa menghasilkan tegangan maksimal 600 milivolt. Namun setelah dua hari, tegangan ini akan turun menjadi 200 milivolt sehingga harus ditambahkan selulosa lagi. Christy juga menggunakan kotoran akhir yang dikeluarkan sapi dengan cara yang sama seperti menggunakan cairan rumen dan dapat menghasilkan tegangan 300-400 milivolt tiap sel bahan bakar.

Di Indonesia……..

Di Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat sudah diberdayakan kotoran sapi sebagai bahan bakar penghasil listrik. Prinsip kerjanya cukup sederhana, kotoran sapi yang sudah dicairkan, lalu disalurkan ke dalam reaktor. Dari reaksi yang terjadi, dihasilkan gas yang ditampung ke dalam sebuah wadah penampungan (elpiji) yang kemudian dijadikan energi untuk menghidupkan generator.

Reaktor yang dipakai terbuat dari dua tabung besar dari plastik yang dikencangkan seperti balon. Pada tabung balon pertama sepanjang 4 meter diberi pipa besar untuk memasukkan kotoran sapi pada bagian depannya. Pada bagian belakang juga diberi pipa saluran untuk keluar kotoran sapi yang telah terpakai.

Dari bagian atas tabung pertama itu juga diberi selang yang menghubungkan ke tabung balon kedua berukuran panjang 2 meter. Tabung kedua menampung gas dari kotoran tersebut. Untuk menyalurkan gas ke kompor diberi selang yang dilengkapi alat mengontrol tekanan gas. Alat itu berfungsi apabila kelebihan, gas akan keluar sendiri. Biogas yang dihasilkan bisa dipakai 2-3 hari tanpa bau kotoran sapi lagi.

Biogas inilah yang nantinya akan menghidupkan generator untuk bisa menghasilkan aliran listrik. Bisa juga langsung dijadikan bahan bakar pada kompor gas. Pada kondisi normal, dua ekor sapi perah bisa menghasilkan 4,14 m³ biogas perhari atau setara dengan 1,90 kilogram elpiji atau 2,56 liter minyak tanah. Sedangkan 1 m³ biogas setara dengan 0,46 kilogram elpiji, 0,62 liter minyak tanah, 0,80 liter bensin, dan 3,5 kilo gram kayu bakar.

Jadi siapa bilang kotoran sapi tidak bermanfaat? Jika diolah, kotoran yang sering dianggap menjijikkan ini ternyata bisa menghasilkan energi alternatif yang sangat bermanfaat. Bisa dibayangkan besarnya daya yang dihasilkan rata-rata satu unit generator adalah 400 hingga 500 watt. Ini cukup untuk menyalakan 10 lampu yang berdaya 40 watt.

Penggunaan listrik dari biogas bisa menggantikan listrik dari PLN selama lima atau enam jam. Dengan kalkulasi seperti itu, maka setiap kepala keluarga di Haurngombong bisa menghemat pemakaian listrik hingga Rp 50 ribu per bulan atau Rp 600 ribu pertahun. Saat ini sekitar 70 kepala keluarga sudah memanfaatkan listrik dari biogas. Jika di total maka setiap bulan penduduk Haurgombong bisa menghemat listrik sekitar Rp 3,5 juta atau Rp 42 juta per tahun. Hal ini belum ditambah penghematan untuk minyak tanah, elpiji, dan kayu bakar yang bisa digantikan oleh biogas.

Jika diasumsikan satu kepala keluarga menggunakan dua liter minyak tanah perhari dengan harga Rp 3.000 per liter, maka berarti di Haurngombong bisa dihemat Rp 420 ribu per bulan atau Rp 5.040.000 per tahun.

Untuk ukuran sebuah desa, penanganan kotoran sapi sampai menghasilkan listrik merupakan kemajuan besar. Penghematan energi yang luar biasa. Maka tak heran jika Haurngombong dijadikan sebagai Desa Mandiri Energi. Jika desa-desa di Indonesia lainnya juga melakukan pengembang tentu biaya yang dihemat bisa sangat besar. Dampaknya akan sangat besar terhadap perekonomian negara dan tentunya mengurangi beban PLN dalam hal krisis pasokan listrik.

Proyek ini sendiri dikembangkan oleh fakultas pertanian UNPAD Bandung dan PT PLN  serta masyarakat Haurgombong. Kita berharap hal ini tidak sekedar proyek percontohan semata, tetapi pemanfaatannya mencakup masyarakat luas. Jika hal ini dilakukan, maka bisa dibayangkan berapa uang negara yang bisa dihemat.

Sumber : Republika, Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s