Sang Guru Bijak


Sedikit mengulas kenangan indah di Pondok Pesantren Hidayatur Rohman Tlogo Pojok Gresik 2004 – 2005. PP Pesantren yang dekat Ramayana, pasar gresik, dan terminal Gubenur Suryo ini merupakan pondok salafi yang dipimpin oleh Alm, KH Masfuch Hisyam dan Putri beliau Alm, Ibu Nyai Hj. Nur Chamidah Da’i. Pondok yang fokus pada pembacaan dan penghafalan ayat suci Al Quran ini telah mengukir sejarah indah dalam kehidupan seorang Agus Rohman. Den bagus begitu ia akrab dipanggil di pondok itu memulai nyantri di PP ini sekitar tahun 2004 (tepatnya ketika kelas 2 SMA) dan “pindah kamar” ketika lulus SMA. Kata-kata “pindah kamar” adalah anjuran kyai masfuch untuk santri yang meninggalkan PP agar ilmunya yang didapat di PP ikut pindah pada diri seorang santri. Beliau menghindari kata “boyong ” karena dinilai mempunyai konopak kyai.psdtasi negatif.

Den bagus adalah siswa SMA Negeri 1 Gresik ketika dia mondok di PP tersebut. SMA N 1 Gresik merupakan sekolah percontohan dan favorit yang ada di Kabupaten Gresik. aktivitas di sekolah dan di pondok turut andil membentuk pribadinya. dari mulai pribadi yang tertutup, pendiam, pemalu, kurang percaya diri, dan sulit bersosialisasi menjadi pribadi yang pandai bergaul, mandiri, agak pemalu, lumayan percaya diri, dan agak rami…hehe. Dua tahun di linkungan pesantren telah mengajari banyak hal. Arti sebuah keikhlasan, ketulusan, kesabaran, kedermawanan, kesetiakawanan, ketawadhu’an selalu diajarkan dan dicontohkan pada diri Romo Kyai Masfuch Hisyam. Beliau adalah guru idola yang menjadikan agus merasa nyaman berada di dekatnya. Satu hal yang menjadi kenangan indah yang selalu teringat sampai beliau pergi untuk selamanya adalah kebiasaan agus yang menawarkan diri nya untuk memijat tubuh gurunya. Dalam hati agus, selalu terbesit kata: apakah tubuhku bisa bersanding dengan beliau lagi di surga nanti. Kalau pun tidak bisa, semoga persentuhan kulit ku dengan kulit beliau ini menjadi jalan bertemu beliau di surga nanti. Sesuai hadist nabi: Al mar’u ma’a man achabba (bahwa seseorang akan berkumpul dengan seorang yang dicintainya). Suatu kebiasaan yang sering dilakukan ketika malam hari diselingi dengan pertanyaan2 agama, semacam diskusi kecil dengan Sang Guru. Beliau (Romo Kyai) tidak pernah membedakan santri-santri beliau. Ketika beliau menghadiri sebuah undangan manaqib, beliau tidak canggung naik becak berdua dengan santrinya, termasuk agus. Inilah yang membuat agus begitu mengangumi sosok romo kyai yang begitu bijaksana. Sikap yang ditunjukkan beliau membuat agus bertekad untuk menjadi pendidik yang bijak seperti romo kyai masfuch hisyam. 

Tiba saatnya ketika sudah lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya) yang notabene nya kampus pencetak guru. Di sanalah agus memulai belajar mendalami menjadi sosok guru yang menjadi idola seperti romo kyai nya. Teringat waktu itu ketika agus mengajak ayah nya untuk berpamitan “pindah kamar” kepada romo kyai, sambil mencuim tangan beliau, air mata selalu menetas, Teringat semua kebaikan dan kebijakan beliau yang selalu sabar mendidik santri-santri nya di usia yang begitu sepuh (tua, sekitar 80 tahun). Beliau romo kyai mengantarkan agus dan ayahnya sampai di depan pondok, Begitu bersahaja, begitu santun, begitu bijak sikap beliau. Menghormati semua tamu dan tidak pandang bulu. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya.

Beberapa tahun menjadi mahasiswa Unesa, terdengar kabar bahwa Sang Guru Bijak telah menghadap Tuhannya. Agus pun pulang ke pondok dengan derai air mata selama di jalan raya. Suatu kerinduan menusuk hati pada kecintaan nya pada Sang Guru. Dilihat begitu banyak kerumunan warga mengantarkan jenazah beliau. Depan ramayana sampai depan masjid Agung Gresik, pulau manusia berjejal membanjiri kota gresik waktu itu. Mengantarkan pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Betapa tidak, di saat sakit dan menjelang ajal, beliau di tandu untuk menuju pusat pengajian. Beliau menjadikan amalan mendidik dan menyampaikan ilmu sebagai amalan istiqomah nya. Semoga Allah meridhoinya. Den bagus pun tidak terasa dan sadar bahwa air matanya terus menetes dari depan PP sampai depan masjid Agung.. Teringat semua kenangan indah bersama beliau. Kenangan waktu memijat tubuhnya, kenangan naik becak bersama, kenangan makan “talaman” (makanan dalam 1 wadah besar), kenangan  indah diminta membaca kitab kuning, dan banyak kenangan indah bersama sanguru idola. Terbesit niat untuk menyentuh tubuh beliau sebelum di makamkan, tetapi ratusan manusia pun mempunyai niat sama. Agus berdoa pada Allah dengan menunjukkan amalan2 dan kenangan2 indah bersama beliau, dan akhirnya Allah mengabulkannya. Agus dapat menyentuh tubuh beliau untuk terakhir kalinya. Air mata pun menetes deras, sungguh deras. Sampai hari ini, ketika agus menulis cerita ini dari sebuah video pemakaman beliau yang diupload seorang santri di facebook, air matanya menetes. Semoga Allah meridhoi  beliau dan menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisiNYA. amin

download video pemakaman: http://www.4shared.com/video/3YXUMTeM/SWANADA_-_Pemakaman_KH_Masfuch.html

download video pemakaman: http://www.4shared.com/video/-bBIINbf/SWANADA_-_Pemakaman_KH_Masfuch.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s