Lari Pagi Perlu, Jangan Lupa Subuh


7 bulan sudah merantau di tanah debus, Tangerang Banten. Hal yang mulai bersahabat denganku sejak masih SMA sudah berpisah dengan orang tua. Kemudian merantau selama 7 tahun di Surabaya untuk menyelesaikan kuliah S1 (2005-2009), 2010 menjadi guru IPA dan Matematika di SDIT Attaqwa Wiyung Surabaya, dan tahun 2010 – 2012 melanjutkan kuliah di tempat yang sama, Unesa tetap jaya ^_^. Pagi hari yang cerah di Dumpit Gandasari Tangerang Banten (Rumah kost) menjelang pukul 04.40 WIB terdengar adzan subuh. Bergegas sholat subuh dan setelah itu bersiap lari pagi. Di tengah pagi buta, masih belum banyak orang yang beraktivitas. Saya sengaja melakukan ini agar tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, kalau sudah agak siang, jadi gak enak kalau mau olah raga. Udara nya sudah tercampur asap kendaraan. Kalau masih subuh, masih segar udaranya dan membuat tubuh semakin semangat dalam beraktivitas di weekend. Lari pagi memang perlu, tapi jangan lupa subuh, sembahyang dulu, begitulah lirik lagu yang didendangkan si raja dangdut Bang Haji Rhoma Irama. lari-pagi

Sabtu-Ahad ini ada agenda tersendiri yang harus di lakukan untuk persiapan mengajar 3 anak SMA yang akan mengikuti seleksi masuk sekolah penerbangan. Aktivitas mengajar privat (ngelesi) sudah menjadi rutinitas yang sejak di surabaya hampir tiap hari saya lakukan. Dari sejak semester 1 kuliah S1 sampai akhir kuliah S2 tetap menggeluti aktivitas itu. Maklum, saya biaya kuliah sendiri, jadi harus ekstra keras untuk menggapai cita. Bergabung di primagama selama 2 tahun ikut andil juga membentuk karakter dan gaya mengajar yang efektif dan menyenangkan. Dan kini, berkat ikut les di English First (EF), saya bertemu anak2 yang mau diajar Fisika dan Matematika. Hahaha…kalau memang sudah rezeki memang tak akan kemana. Semua sudah diatur, tergantung bagaimana kita menjemput rezeki itu.

Terkadang kalau diingat ada sebuah cerita lucu ketika saya mengikuti kajian di surabaya. Beliau pernah bercerita, kenapa kalau kita pergi ke pasar banyak sekali pedagang yang menjual dagangan yang sama berjejer di jalan yang sama. Pemandangan ini katanya akan sedikit ditemui kalau kita datang di pasar orang cina. Kalau di pasar cina, apabila pedagang 1 menjual makanan, maka pedagang 2 yang berada di sampingnya menjual minuman, di sampingnya lagi menjual alat2 kecantikan dll. Orang cina pintar membaca peluang. Beda dengan orang Indonesia, kalau melihat pedagang buah yang laris manis di pasar, maka pedagang yang lain kadang ingin ikut berdagang buah. Tetapi saya memahami situasi di Indonesia ini sebagai wujud dari kekeluargaan dan kebersamaan. Karena saya lihat antara pedagang buah apel yang 1 dengan apel yang lain tidak saling bermusuhan. Inilah indonesia. Negeri dengan sejuta pesona yang megah dan membahana. Dan saya bangga terlahir menjadi orang Indonesia.

*Membaca-Menulis-Meneliti

Best Regard

Tangerang, 23 Maret 2013

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s