Ratapan di Tahun 2070


es

Download Ratapan 2070: http://www.4shared.com/office/l7txEilu/Year_2070_water_Indonesia.html

Sebuah surat ratapan dan jeritan di tahun 2070 membuat miris dan menyayat hati ketika itu di perkuliahan Biologi Umum dengan Prof Dr H Muslimin Ibrahim, M.Pd. Silahkan didownload di link di bawah gambar dan mulailah merenung. Kemudian, apa yang Anda rasakan? Bersykurlah atas nikmat Tuhan pada kita di tahun 2013 ini. Bagi yang belum sempat melihat surat ratapan 2070, mungkin ada baiknya saya ulas sedikit dengan ditambahi beberapa tindakan untuk mencegahnya.

Kisah tragis di mana bayi-bayi dan anak-anak menjerit merintih meregang untuk mencari setitik sumber kehidupan. Air sangat langka di tahun 2070. bahkan menjadi suatu hal teramat penting daripada uang yang selama ini kita dewa-dewakan. di tahun 2070 seolah menekankan bahwa uang bukanlah segala-galanya. Jadikan dunia dalam genggaman tanganmu, dan janganlah dalam hatimu. Begitulah Sang Guru Bijak (KH. Masfuch Hisyam) menyatakan tentang dunia. Saya baru mengerti bahwa memang benar uang bukanlah segalanya. Coba bayangkan saja, ketika kita pergi ke Belanda dengan pesawat super jet, dan atas kuasa Tuhan pesawat yang ditumpangi jatuh ke laut. Sungguh, harapan pertama bagi yang terjebur ke laut adalah ban motor/mobil bekas daripada emas/berlian yang dinilai mampu untuk menampung berat badannya agar tidak tenggelam. Iya kan? Silahkan direnungkan. ^_^

Mumpung belum terlambat, marilah kita jaga dengan sebaik-baiknya sumber daya alam di dunia khususnya di Indonesia. Air termasuk dalam SDA yang dapat diperbarui. Saya ingat pelajaran tentang SDA ini ketika SD dan SMP. Dulu yang saya tangkap bahwa air tidak akan bisa habis karena merupakan SDA yang dapat diperbarui. Tetapi, apabila air digunakan terus menerus tanpa dijaga dan dilestarikan misalnya dengan menanam pohon2, membuat hutan buatan, dll akan menjaga kelestarian sumber kehidupan itu.

Teringat perkataan mbah2/buyut dahulu ketika ditanya tentang kenapa menanam pohon jati? kan pohon jati akan butuh waktu bertahun-tahun untuk memanen nya? di jawab dengan bijak bahwa saya ingin anak cucu kitalah yang menikmatinya. Begitu pula para pahlawan dan pejuang di RI kita, mereka rela mengorbankan nyawa hanya untuk memerdekakan Indonesia dengan harapan agar anak cucu mereka mendapat kehidupan yang layak. Sungguh mulia pribadi mereka. Akankah perjuangan itu kita sia-sia?

Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua agar lebih peduli pada sesama dan pada generasi selanjutnya.

Best Regard

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s