Science Formative Asessment


Memang selalu menarik apabila kita (pendidik) menyelami dunia siswa. Apakah itu kognitif, psikomotor, dan afektif siswa? Tentunya semua dari itu perlu dilakukan pengukuran agar seorang guru mengetahui perkembangan dan peningkatan siswa selama belajar. Selama ini Indonesia memang mulai serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan upaya dan tindakan nyata. Perubahan format UN (Ujian Nasional) yang dulu ketika saya masih sekolah namanya EBTANAS (Evaluasi Tahap Akhir Nasional) dirasa hanya mengukur siswa dari sisi kognitif saja. Sedangkan sisi psikomotor dan afektif siswa tidak menjadi patokan kelulusan. Memang terdengar pincang kala itu ketika kelulusan hanya bergantung nilai EBTANAS. Sekolah di SD selama 6 tahun, hanya ditentukan dalam waktu 4-5 hari saja. Nah, bayangkan ketika 4-5 hari itu kita dalam keadaan sakit dan memaksakan ikut EBTANAS, bisa saja hasilnya kurang memuaskan dan kemudian tidak lulus. Apakah ini adil?

Seiring kemajuan zaman dan pola pikir manusia, Menteri Pendidikan selalu melakukan evaluasi dan perubahan kebijakan2 hinggal tercapai kesepakatan bahwa nilai kelulusan tidak hanya pada UN tetapi nilai sekolah juga diperhitungkan. Semoga ke depan, kebijakan-kebijakan itu semakin baik dalam mengukur aktivitas siswa di sekolah. Sebagai contoh mata pelajaran sains (IPA) yang seharusnya diajarkan dengan inkuiri menggunakan keterampilan proses sudah selayaknya untuk mengukur keberhasilan siswa juga tidak hanya dari sisi kognitif saja, melainkan ada siswa psikomotor dan afektif siswa. Keterampilan proses perlu diterapkan karena melatih siswa untuk menemukan konsep materi dengan melakukan penelitian ilmiah. Hal ini menghidari metode ceramah yang selama ini diterapkan di berbagai sekolah karena di nilai lebih gampang dan siswa tinggal mendengarkan lalu menghafalkan teori dan materinya. Apakah begitu sains diajarkan?

Buku Asesment formatif sains ini bermanfaat  agar sebagai seorang pendidik diharapkan lebih peka terhadap siswa. Hal ini dikarenakan asesmen bermanfaat  untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.

Membaca-Menulis-Meneliti

Best Regard

Tangerang, 23 Maret 2013

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s