Memanusiakan Manusia


Berawal dari ketidakpuasan berantai. Guru SMP mengeluhkan mutu lulusan SD, guru SMA mengeluhkan mutu lulusan SMP, dosen di perguruan tinggi mengeluhkan mutu lulusan SMA, dan perusahaan/pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan lulusan sarjana. Bagaimanakah arah pendidikan di Indonesia? Keluhan itu juga keluar dari masyarakat yang merasa miris dengan sikap dan prilaku lulusan pendidikan sekarang ini. Banyak sekali kasus yang melibatkan pelajar/orang yang berpendidikan. Seperti tawuran, pencurian, pelecehan seksual, narkoba dan masih banyak lagi. Bahkan baru-baru ini penyimpangan sosial ini mulai merambah ke anak SMP dan SD. Miris banget bukan? Dan lagi ditambah ulah para anggota dewan dan pejabat pemerintah sebagai orang yang berpendidikan dan dipercaya sebagai wakil rakyat malah sering memakan uang rakyat. Sebenarnya apa tujuan pendidikan itu? Mengapa para pengguna lulusan sarjana masih melakukan seleksi kepada calon karyawan dengan tes kemampuan dasar dan melakukan training untuk beberapa bulan. Mereka seolah-olah meragukan mutu dan kualitas dari lulusan perguruan tinggi.

1291634317641881863

Ketidakpuasan atau kerisauan masyarakat terhadap pendidikan juga dialami beberapa negara. Charles Handy (dalam Gibson (ed), 1997: 24) menyatakan:”….we have designed our schools on the implicit assumption that all the problems in the world have already been solved and teacher knows the answer…..In my view of the world, the future world of constant discontinuity, the problem are not yet here. We have to invent the world. Traditional education is, therefore in danger of being deskilling rather than the reserve…

Sebenarnya pendidikan dapat dipahami dalam tiga jangkauan pandangan. Menurut Samani (2011: 6) tujuan pendidikan untuk jangka pendek adalah dipahami sebagai proses pembelajaran; untuk jangka menengah pendidikan dipahami sebagai persiapan bekerja; sedangkan untuk jangka panjang pendidikan dipahami sebagai proses pembudayaan. Pembudayaan kehidupan ini tidak hanya terkait dengan pekerjaan, tetapi sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai warga negara. Hal dipahami bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah proses memanusiakan manusia. Bagaimana seorang guru fisika di kampus pendidikan yang mencetak guru, mengajarkan fisika sebagai sarana untuk menjadikan siswanya menjadi manusia seutuhnya. Perlu diingat bahwa tugas guru adalah  mencetak tenaga pendidik fisika  yang mampu melatih anak menjadi manusia melalui fisika. Bukan mentransfer pengetahuan fisika.

Desain pendidikan seharusnya dimulai dengan mengkonstruksi pola kehidupan di masa depan di saat anak didik sudah mulai dewasa dan terjun bekerja dan bermasyarakat. Yang menjadi kunci bukan teaching tapi learning. Peran guru/dosen adalah menciptakan situasi, memberikan informasi dan membimbing agar anak dapat mengkonstruksi pemahaman/keterampilan tertentu dengan cepat dan benar. Konsep “apakah anak belajar” perlu diperhatikan dan bukan sekedar “apakah guru mengajar”. Semoga tujuan pendidikan di Indonesia dapat menjadikan masyarakatnya menjadi manusia seutuhnya…Amin

 

Membaca-Menulis-Meneliti

Best Regard

Tangerang. 24 Maret 2013

Agus Rohman

 

One thought on “Memanusiakan Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s