Pengkotakan Siswa dan Pengkastaan Sekolah


Indikator kemajuan dan kedigdayaan sebuah negara bukanlah diukur dari pendapatan nasional, kekayaan sumber daya alam, kemajuan teknologi, kekuatan militer, dan luas wilayahnya, tetapi lebih kepada sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif yang dibina melalui pendidikan bermutu dan relevan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Nelson Mandela bahwa “Pendidikan adalah senjata paling mematikan, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia”. Artinya, apabila sebuah bangsa ingin maju dan menguasai dunia, maka hal utama yang perlu ditingkatkan adalah karakter penduduknya yang dibina melalui pendidikan. Seperti halnya yang dilakukan negara Cina, Korea Selatan, dan Finlandia. Finlandia merupakan salah satu negara non Asia yang sukses dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dikarenakan karena kebijakan-kebijakan pendidikan konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti.Bagaimana dengan Indonesia yang tentatif, suka coba-coba, dan sering berubah kurikulumnya. Seperti halnya slogan salah satu iklan di TV, “Buat Anak kok Pakai Coba-Coba”.

curriculum

Prinsip kurikulum pendidikan Finlandia adalah” Less is More“. Sekolah berfungsi sebagai tempat belajar dan eksplorasi potensi dimana sekolah menjadi lingkungan yang relaks dan tidak terlalu mengikat siswanya dengan jam belajar dan kapasitas tugas yang tidak terlalu membebani siswa. Salah satu prinsip kurikulum di Finlandia yang lain adalah Non-discrimination and equal treatment yang berarti tidak ada diskriminasi dan mendapat perlakuan yang sama. di Finlandia semua anak punya hak sama dalam pendidikan, tidak dibedakan antara si kaya dan si miskin dan semua sekolah tidak dibedakan baik itu sekolah favorit atau tidak. Bagaimana di Indonesia yang sering membuat “Pengkotakan Siswa dan Pengkastaan Sekolah”?

Di Indonesia, sering terjadi pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sebagaimana diketahui bersama bahwa ada kelas reguler dan kelas akselerasi, kelas bilingual. Pengkastaan sekolah pun kerap dilakukan. Ada sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah berstandar internasional. Seolah sekolah berlabel negeri dianakemaskan dan sekolah swasta dianaktirikan. Apakah ini suatu kebijakan yang sudah dipikir matang-matang?

Perlu diketahui juga bahwa di Finlandia ada Parental Engagement, orang tua siswa juga terlibat dalam pendidikan anak. Tujuannya adalah membantu pihak sekolah bakat anak secara akurat dari orang tuanya. Bukankah orang tua adalah tempat pendidikan pertama bagi anak sebelum ia masuk ke sekolah? Orang tua juga memiliki hak mengevaluasi kurikulum sehingga mereka punya hak memberikan saran untuk perkembangan si anak. ini adalah peran nyata orangtua dalam pendidikan. jadi orantua di Finlandia tidak sekedar mendaftarkan anak ke sekolah dan terus selesai, mereka punya tanggungjawab sebagai orangtua untuk memonitor kemajuan si anak dengan baik melalui keterlibatan memberikan saran dan pendapat untuk perbaikan kurikulum jika dibutuhkan. Bagaimana di Indonesia yang semua kebijakan kurikulum diatur oleh pemerintah pusat dan ahli kurikulum. Sedangkan orang tua sebagai konsumen yang patuh dan taat (sendiko dawuh) terhadap kurikulum yang dibuat. Lagi-lagi hal ini terjadi di kurikulum 2013. Orang tuan dan guru seolah menjadi obyek pelaksana kurikulum baru yang sempat “ditelanjangi di ITB”. Di Finlandia, guru tak hanya sebatas pengajar tapi mereka pakar kurikulum. Kurikulum di Finlandia sangat berbeda di setiap sekolah namun tetap berjalan di bawah panduan resmi pemerintah. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks.

BANDUNG, KOMPAS.com – Sebuah diskusi terbuka yang digelar oleh majelis guru besar Institut Teknologi Bandung khusus membahas mengenai rencana pemberlakuan kurikulum 2013 oleh pemerintah, Rabu (13/3/2013). Disana, substansi kurikulum dipaparkan untuk ditunjukkan kelemahan pada substansi, redaksional maupun filosofinya. Diskusi berlangsung di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, dihadiri oleh Ketua MGB ITB, Harijono Tjokronegoro, profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta, Henry Alex Rudolf Tilaar, guru besar ilmu matematika ITB, Iwan Pranoto, serta guru besar ITB Imam Buchori Zainuddin. Diskusi dilangsungkan dalam dua sesi dengan sesi tanya jawab di antaranya. “Komentar saya, kalimatnya rasional, antisipatif, dan menginspirasi. Tapi bila didalami dalam implementasi kurikulumnya banyak yang bertentangan,” kata Imam.Terkait kompetensi inti dan kompetensi dasar, Imam banyak menemui penggabungan unsur agama dengan sains yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Dia menyebut contoh untuk kelas X mata pelajaran Bahasa Indonesia, kompetensi intinya adalah menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Dalam kompetensi dasar poin pertama adalah mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa. Contoh-contoh lainnya juga diungkapkan oleh Iwan Pranoto. Dalam mata pelajaran Kimia untuk kelas X, dia mendapati kalimat penjelasan kompetensi dasar yakni “menyadari keteraturan dan kompleksitas konfigurasi elektron dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME.” “Bila dicampur adukkan dengan Tuhan, naskah kurikulum seolah tidak bisa didebat karena nilainya menjadi suci,” ujar Iwan.

Kata Kemendikbud bahwa konsep dan prinsip kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan tematik integratif bukanlah kurikulum baru di dunia, bahkan sudah diterapkan di Finlandia, Jerman dan prancis. pertanyaannya apakah kurikulum ini bisa di operasionalkan di Indonesia dengan pertimbangan keadaan lingkungan yang bisa dikatakan masih jauh berbeda dengan negara yang disebutkan diatas? tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini secara langsung karena kita belum melihat dampak kurikulum ini ke depan.

Perlu banyak hal dalam melaksanakan kurikulum tersebut termasuk kesiapan saran dan prasarana sekolah yang ada di Indonesia. Beberapa sekolah di kota besar mungkin sudah layak untuk diterapkan kurikulum tersebut, tetapi bagaimana dengan sekolah-sekolah di desa terpencil, sekolah-sekolah di pinggiran yang kerap kali terlupakan? Bukankah lebih baik meratakan dan memperbaiki pendidikan di desa2 terpencil dan terpinggirkan? Hal ini akan menjadi tanda tanya besar…Akankah pengkotakan siswa dan Pengkastaan Sekolah akan berlanjut? ? ? Bilakah pendidikan buat anak2 terpelosok dan terpinggirkan senantiasa terus kurang diperhatikan??? Semoga Kurikulum 2013 menjadi kurikulum yang mampu memecahkan masalah-masalah pendidikan di Indonesia.

Sumber:

http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/25/kurikulum-2013-indonesia-vs-kurikulum-finlandia-511723.html

http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/13/19402224/Kurikulum.2013.Ditelanjangi.di.ITB

2 thoughts on “Pengkotakan Siswa dan Pengkastaan Sekolah

  1. I had watched some discussion about this new curriculume. it must be terrible for me to explain how knotty our education program. I thought that it will be nice if religion can be intrograted in our own lesson but it depend on the teachers. because every singgle thing run away from them. so it not only about the curriculum but also how far the teacher understand about it.
    maybe it couldn’t be good opinon😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s