Pendidikan Bermakna, Masih Adakah?


Ironi dalam dunia pendidikan apabila seorang guru lebih menyukai siswa yang nilainya sempurna dengan hasil mencontek yang di samarkan daripada siswa yang jujur tetapi nilainya jelek. Berdasarkan survai dan pengamatannya, kebanyakan orang sukses memiliki karakter budi pekerti seperti bertanggungjawab, menjunjung etika, bekerja keras, jujur, beriman dan bertakwa, hormat pada orangtua, selalu penasaran, bersemangat meraih cita-cita, punya visi. Jarang sekali, nyaris tak ada, orang sukses karena dulu waktu sekolah nilainya bagus-bagus. Kisah ini mengawali sebuah gagasan mengapa pendidikan harus bermakna?

Rupanya realitas ini juga tertangkap sama dan sebangun oleh Robert T. Kyosaki, seorang-orang warga Jepang kelahiran Hawai. Melalui bukunya yang berjudul „Rich Dad Poor Dad“ sekaligus juga mempertanyakan isi pendidikan di negaranya, sehingga memicunya untuk menorehkan pikiran kritisnya dalam buku yang sangat provokatif.
If you want to be rich and happy, don’t go to school”. Dalam buku ini terungkap bahwa pendidikan selama ini tidak memberikan bekal untuk menghadapi kehidupan nyata. Kendatipun terkesan bahwa Kyosaki mempersempit makna hidup dengan mencari kekayaan materi, tetapi ungkapannya tentang pendidikan sangatlah rasional [hlm:33] (sumber: http://djokoawcollection.blogspot.com).

Berbagai kelemahan dan agaknya memperhatikan sedang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tidak jarang lulusan SMK atau perguruan tinggi masih canggung dalam menuangkan ide/gagasannya. Hal ini menjadi kekhawatiran pengguna lulusan yang membutuhkan jasa mereka. Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Karakter ini yang dimiliki sebagian atau hampir seluruh lulusan perguruan tinggi sulit merencanakan dan membangun ide yang cemerlang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kebiasaan di sekolah/kuliah  yang kerap mengutamakan cara belajar menghafal dan sedikit berpikir adalah jawabannya.

Hal tersebut diperparah dengan sikap orang tua yang senang dan bangga ketika anaknya mendapat nilai bagus di sekolahnya, dan banyak dari mereka tidak peduli darimana hasil tersebut di dapat. Saya bangga dengan salah satu orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Ketika itu anaknya tidak lulus UNAS, tetapi orang tua tersebut malah mengadakan tasyakuran tanda syukur kepada Tuhan. Orang tua itu berkata, memang benar anak saya tidak lulus UNAS, tapi anak saya lulus dalam nilai kejujuran. Masih adakah orang tua seperti ini? saya pikir masih ada, tetapi sedikit.

Menurut Muchlas (dalam bukunya Menggagas Pendidikan Bermakna), penanaman sikap jujur kepada anak ternyata perlu diikuti oleh pemberian penghargaan, ketika si anak sudah melakukannya. Kita tidak boleh kemudian tidak menghargai kejujuran itu dan lebih mengedepankan aspek lainnya. Sungguh suatu pelalajaran berharga bagi kacamata pendidikan. [Hlm:115]
Catatan dalam menggagas pendidikan akhlak :
Pertama, baik orang tua maupun kalangan guru sama-sama menganggap bahwa pendidikan akhlak itu penting bagi anak-anak
Kedua, yakinlah walaupun sulit pasti dapat dilakukan
Ketiga, ingat bahwa siswa memiliki kepedulian terhadap akhlak seorang-orang yang ada disekitarnya atau dilingkungannya. [catatan warung: orang yang dikenal harus memberikan keteladanan]
Keempat: agar dapat berhasil dengan baik, pendidikan akhlak harus dirancang dengan baik dan secara bersama antara sekolah dan orang tua siswa.
Kelima, teladan merupakan factor penting dalam keberhasilan pendidikan akhlak
Keenam, pendidikan akhlak harus dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.
[hlm: 122-123]

Bagaimana siswa tidak sekedar diajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga bagaimana ilmu pengetahuan itu diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan life skill akan nampak bahwa pendidikan di sekolah bukan sekedar penyampaian teori atau ilmu saja, tetapi ada unsur keterampilan hidup. Hal ini sangat berguna ketika siswa sudah lulus sekolah atau mahasiswa  yang sudah lulus perguruan tinggi.

Dahulu ketika saya masih kecil, si mbah bilang buat apa kamu sekolah, nanti juga akan bantu bapakmu di sawah. atau sekolah itu gak ada hasilnya, itu lihat si mamat yang gak sekolah atau cuma lulusan SD tetapi punya pabrik tembakau dan punya karyawan banyak. dari sinilah pentingnya keterampilan hidup juga diajarkan dalam sekolah/kampus. diharapkan dengan adanya korelasi antara ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup yang diajarkan di sekolah, lulusan SMK/perguruan tinggi mampu menjadi lulusan yang dapat menerapkan ilmunya di dalam masyarakat. Sebagai pengajar Fisika, bagaimana caranya agar materi fisika dihubungkan dalam dunia nyata (dikontekstualkan). Hal ini sangat penting agar fisika menjadi menarik dan siswa tahu mengapa penting dalam belajar fisika.

 

Sumber:

Samani. Muchlas. 2007. Menggagas Pendidikan Bermakna. Surabaya: SIC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s