Redesain Pendidikan Guru


Seorang guru tega memberi balsem ke mata tiga orang muridnya yang dituduh curang dalam ujian. Akibatnya, seorang pelajar putri sampai pingsan dan terpaksa dibawa ke klinik sekolah (Detik.com:26/3/13).

Kasus kekerasan seksual melibatkan guru dan murid terjadi di SMA Negeri 22 Matraman, Jakarta Timur. Seorang guru, T, 46 tahun, dilaporkan melakukan pelecehan terhadap muridnya, MA, 17 tahun (Tempo.co: 2/3/13).

ge

https://www.google.co.id/search?hl=en&authuser=0&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1280&bih=608&q=pak+guru+kartun&oq=guru+kartun

Beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan dan asusila kerap terjadi di sekolah. Sekolah yang semestinya tempat belajar dan memengajar  ini beralih fungsinya. Sangat disayangkan memang apabila kebanyakan pelaku tindak kekerasan itu adalah guru. Sosok yang seharusnya digugu dan ditiru kini mulai memudar. Berita di atas sangat mencoreng nama guru di Indonesia, padahal itu adalah pelaku oknum guru. Masih banyak guru-guru yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Guru-guru di daerah terpencil yang ikhlas berbagi ilmu pada muridnya. Masih ingatkah kita akan sosok ibu Muslimah di film Laskar Pelangi? Atau sosok Umar Bakri yang banyak ciptakan Menteri? Apakah nama baik dua guru yang saya sebutkan kini tercoreng dengan sikap oknum guru jaman sekarang? Sungguh sangat disayangkan memang.

Dalam hal kualitas pendidikan guru, LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) merupakan institusi yang bertanggungjawab atas pembentukan guru profesional. Guru-guru profesional ini yang diharapkan berkontribusi pada perkembangan intelektual, sikap, dan moral individu siswa sebagai anggota masyarakat (Knowles, 1990 dalam Martadi, 2011). Pertanyaannya mengapa kasus di atas bisa terjadi? Bukankah guru yang seharusnya menjadi pendidik dan pengayom malah menjadi pelaku. “Idealnya guru  mendapatkan sertifikasi dan melalui  tes psikologi sebelum mengajar. Karena percuma meski guru lulus S1 dan S2 tapi dia tidak punya keahlian dalam mendidik. Dalam konteks inilah redesain pendidikan guru menjadi penting.

Sejatinya, kekerasan  di sekolah (bullying) akan menyebabkan anak menjadi traumatis. Anak akan menganggap bahwa sekolah tidak ubahnya sebagai “penjara ilmu”. Anak yang tumbuh dari hasil kekerasan akan membuatnya tumbuh menjadi orang yang keras, otoriter dan lainnya. “Atau bahkan anak bisa melakukan bunuh diri seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh siswa sekolah di Bantar Gebang. Untuk itu, di masa depan, tak mungkin membenahi kualitas pendidikan tanpa melakukan pembenahan sistem pendidikan guru.

Guru merupakan komponen penting dalam proses pendidikan. Peran guru tak akan tergantikan oleh komputer atau robot secanggih apapun karena aspek kemanusiaan pada proses pendidikan hanya didapat melalui contoh dan keteladanan.

Salam Satu Hati

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s