Dilema Uang 10.000 rupiah


Sebuah perubahan zaman yang sangat dinamis dan kecanggihan teknologi yang sangat fantastis serta gaya hidup manusia yang begitu narsis menjadikan aku mikir drastis sebuah makna kehidupan yang amat tragis. Ah memang hidup ini kian miris bikin orang mringis. hehehe.

Hari ini saya harus menulis dua tulisan karena kemarin saya tidak menulis apa-apa. Pesan om Jay, harus di doble agar terbiasa menulis. Maklumlah, masih belajar menulis, terpenting jangan berhenti. Terus bergerak dengan menjaga komitmen dan konsisten. 10

Sebuah dialog batin kala saya masih kuliah S1 di Unesa. Dialog batin itu membahas uang 10.000 rupiah yang berubah nilainya kala saya berada di dua tempat yang berbeda. Kisah ini saya share kan agar menjadi renungan bahwa memang melakukan kebaikan itu sulit. Padahal kita tahu bahwa surga itu murah dan neraka itu mahal. Ini ciyus lho?

Uang 10.000  rupiah yang ada di dompet  terasa kecil nilainya apabila saya pergi ke mall. tetapi akan lebih besar nilainya apabila saya infaqkan ke masjid. Iya gak? Merasa gak? Hehehe….ketahuan deh belum berguru pada ust Yusuf Mansur nie.

22shttp://ghivhie.blogspot.com/2012/07/sedekah-membuat-kaya.html

Kini jauh setelah saya terbebas dari status mahasiswa, mengingat kembali kejadian itu membuat saya tertawa kecil, sambil berkata lirih, maafkan aku Tuhan…Sejatinya berbuat baik itu harus dipaksa agar kita terbiasa. Apalagi kalau konteksnya infaq di masjid. Saya jadi teringat perkataan romo kyai masfuch hisyam yang mengatakan bahwa kalau memberikan uang ke masjid untuk pembangunan itu gak harus ikhlas, karena ikhla itu sulit. Asal uang yang disumbangkan banyak saja tidak apa-apa. Lho kok? Beliau menjelaskan bahwa ketika kita menyumbang uang ke masjid untuk pembangunan masjid, secara pahala kita akan hangus karena kita tidak ikhlas. tetapi uang yang digunakan untuk pembangunan masjid itu kan dibelikan alat2 material sperti batu bata, pasir dan sebagainya akan terus ada selama masjid itu berdiri dan dipakai untuk ibadah, kita akan tetap mendapat pahala jariyah meskipun kita sudah tiada. Nah itulah alasan kenapa beliau ketika menjadi takmir masjid selalu menyeru warga untuk menyumbang masjid walau tidak iklahs asal banyak. Tetapi kalau banyak dan ikhlas bisa dilakukan, itu sesuatu banget deh. Semoga kita semua termasuk ahli sedekah. amin…

Melakukan kebaikan itu sulit dan harus dipaksa, padahal membawa kita ke surga lho. Soal surga itu murah bisa dicek saja tiket menuju kesana. Sholat tidak pake biaya, puasa juga, memberi makan orang miskin, menyantuni yatim, berbakti pada orang tua semua butuh biaya yang relatif lebih murah. bandingkan saja dengan pergi ke diskotik, minum arak, berzina dengan pelacur, berjudi semua itukan membutuhkan biaya yang gak murah. betul gak? tetapi mengapa banyak orang yang senang memburu tiket ke neraka? itulah cerdasnya syeitan dalam mencari teman di dalam neraka. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang dirindukan surga. amin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s