Pelajar “Suami-Istri” Gagal UN 2013


Sungguh memilukan nasib pendidikan di negaranya Ki Hajar Dewantara ini. Berbagai kasus telah meramba ke tempat-tampat yang konon katanya disebut sebagai pemberantas kebodohan ini. Membaca berita di news.fimadani.com tanggal 2 April 2013 membuat miris hati saya dan tentunya hati para pencinta pendidikan.

Gara-gara ketahuan telah berstatus suami-istri, sepasang pelajar di Tangerang, Banten, terancam batal mengikuti Ujian Nasional (UN). Sekolah mereka bahkan telah mengeluarkan keduanya. Kedua pasangan pelajar itu; MS, pelajar sebuah SMA Negeri di Tangerang, dan istrinya, EV, pelajar dari sebuah SMA yang berbeda dari suaminya. Keduanya kedapatan telah menikah, dan memiliki seorang anak. Status mereka terkuak setelah pihak sekolah melakukan investigasi pada Februari lalu (news.fimadani.com/2 April 2013).

pelajar

http://meimiaw.blogspot.com/2012_08_01_archive.html

Dari berita itu menyebutkan bahwa kedua pelajar yang sudah memiliki anak dan sudah menikah itu dilarang ikut UN bahkan dikeluarkan dari sekolahnya. Kedua pelajar itu mengaku sudah mempersiapkan semuanya untuk menghadapi UN dan mengejar impiannya. Namun, pihak sekolah bersikap tegas untuk tidak memperbolehkan mereka mengikuti UN. Hal ini patut disayangkan memang, lha pelajar yang terkena hukum pidana saja boleh ikut UN di penjara kok. Kenapa ini malah dikeluarkan?

Setiap anak mempunyai cita-cita dan pengharapan untuk hidup layak di masa depan. Mereka semua adalah tunas bangsa yang menjadi harapan bangsa untuk meraih kejayaan di masa depan. sesuatu hal yang sudah terjadi dan pelakunya sudah meminta maaf tidak sepatutnya untuk dikecam dan dideskriminasikan. Bagaimanapun juga manusia pernah melakukan kesalahan. Manusia yang baik bukan dia yang tidak pernah salah, tetapi mereka dalah manusia yang mau bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Lebih jauh, pelajar suami istri ini akan merasa bahwa pendidikan tidak membuatnya semakin terdidik. Betapa banyak kasus kejahatan dan asusila yang dilakukan pelajar. Seolah ini menimbulkan suatu pertanyaan yang serius. apakah gunanya bersekolah? Kalau di sekolah anak saya semakin tidak karuan akhlaknya.

Sistem pendidikan di Indonesia memang jauh dari harapan. Masih banyak yang perlu dilakukan dan diperbaiki. Jangan sampai ada ayah yang mengeluhkan anaknya yang masih SD merasa keberatan dengan tas punggungnya yang begitu berat, jangan sampai ada profesor doktor yang ketahuan melakukan plagiat terhadap hasil penelitiannya, jangan sampai ada lagi kisah memilukan pelajar yang meratap di jeruji besi tahanan. Semua harus kita pikirkan mengapa mereka semua melakukan hal itu, bukan sekedar menghakiminya. Adakah yang salah dalam dunia pendidikan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s