Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


Bagaimana guru dapat memotivasi seluruh siswa untuk belajar dan mendukung siswa untuk saling belajar satu sama lain? Bagaimana guru dapat mengorganisasikan kelas sehingga siswa saling menjaga satu sama lain, saling tanggungjawab satu sama lain, belajar untuk menghargai satu sama lain tanpa membedakan suku, kemampuan kognitif, keterbatasan karena cacat?

Jawabannya adalah melalui pembelajaran kooperatif. Model tersebut merupakan model pembelajaran yang memberikan peran terstruktur bagi siswa seraya menekankan interaksi siswa-siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu belajar satu sama lainnya. Kelompok-kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, dan rendah; laki-laki dan wanita; suku yang berbeda; dan siswa penyandang cacat bila ada.

Tiga konsep berikut merupakan ide utama bagi seluruh model Pembelajaran Tim Siswa, yaitu: penghargaan tim, tanggungjawab individual, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.

Penghargaan Tim

Tanggungjawab Individual

Kesempatan Sama untuk Berhasil

Tim-tim akan diberi sertifikat/penghargaan apabila mampu mencapai / di atas criteria yang ditetapkan. Keberhasilan tim bergantung pada hasil pembelajaran individual dari seluruh anggota tim. Setiap siswa menyumbang kepada tim skor peningkatan.
Tidak dalam situasi berkompetisi dalam memperoleh penghargaan Setiap anggota saling membantu satu sama lain dan memastikan setiap anggota siap menghadapi kuis tanpa bantuan teman satu tim. Siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, atau rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik.

Model pembelajaran tim siswa terdiri dari beberapa tipe diantaranya STAD, Jigsaw, Teams Games Tournament (TGT), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dan Team Accelerated Instruction (TAI).

STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)      

STAD merupakan sebuah tipe pembelajaran kooperatif yang memberi tim berkemampuan majemuk latihan untuk mempelajari konsep dan keahlian bersama para siswanya (Slavin, 1986). Dalam STAD, siswa dikelompokkan dalam tim-tim pembelajaran dengan empat anggota yang berbeda (heterogen). Terdiri dari siswa dengan tingkat kinerja tertentu, jenis kelamin, dan suku. Guru mempresentasikan sebuah pejaran, kemudian siswa bekerja di dalam tim-timnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menuntaskan pembelajaran itu. Akhirnya, seluruh siswa diberikan kuis individu tentang bahan ajar tersebut, pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu.

Skor kuis siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu dan poin diberikan berdasarkan seberapa jauh siswa dapat menyamai atau melampaui kinerja mereka terdahulu. Poin-poin itu kemudian dijumlahkan untuk mendapat skor tim. Tim-tim yang memenuhi kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan lain. Keseluruhan langkah kegiatan ini, yaitu presentasi guru sampai mengerjakan kuis, biasanya memerlukan 3-5 periode pertemuan.

Merencanakan pelajaran dengan STAD

Terdapat proses empat langkah dalam merencanakan pelajaran menggunakan STAD, yaitu:

1)    Melalukan perencanaan untuk mengajar kelas sebenarnya

Saat menggunakan STAD, Anda merangcang rencana untuk mempresentasikan materi yang akan dipraktikkan siswa di dalam kelompok dengan cara yang sama Anda merancang rencana untuk pelajaran apapun.

2)    Mengatur kelompok

Efektif apabila siswa dibentuk dalam kelompok yang heterogen. Bob Slavin (1995) yang menciptakan STAD, menyimpulkan bahwa empat adalah angka ideal, tetapi lima dan enam juga bisa digunakan.

3)    Merencanakan studi tim

Sukses pembelajaran STAD tergantung pada bahan berkualitas tinggi untuk memandu interaksi di dalam kelompok. Bahan-bahan studi tim menuntut jawaban konvergen. Jika materinya tidak memiliki jawaban konvergen (seragam), STAD bukanlah strategi paling efektif untuk digunakan.

4)    Menghitung skor dasar dan nilai perbaikan

Kesempatan setara untuk berhasil berarti bahwa semua siswa, terlepas dari kemampuan atau latar belakang, bisa berharap untuk diakui upayanya. Ini dicapai dengan memberikan siswa nilai perbaikan jika skor mereka di dalam satu tes atau kuis lebih tinggi daripada skor dasar mereka. Skor dasar adalah nilai rata-rata siswa berdasarkan tes dan kuis masa lampau atau skor yang ditentukan oleh nilai semester lalu atau tahun lalu.

Menerapkan pelajaran menggunakan STAD

Menerapkan model STAD seperti menerapkan kelas utuh yang berfokus pada konsep atau keterampilan. Meriview, memperkenalkan pelajaran, menjelaskan, dan memberi contoh materi, dan meminta siswa berlatih sembari berhati-hati memonitor upaya mereka. Sangat diperlukan dalam model STAD yaitu: menjelaskan bagaimana studi tim, nilai perbaikan, dan pengakuan tim diterapkan. Berikut adalah fase-fase dalam menerapkan model STAD.

Tabel 2. Fase-fase dalam Menerapkan Model STAD

Nomor

Fase

Tujuan

1

Fase 1: Instruksi/PengajaranKeterampilan dijelaskan dan dimodelkan di dalam lingkungan kelompok utuh
  • Mengembangkan pemahaman siswa tentang keahlian
  • Member siswa latihan untuk menggunakan keterampilan

2

Fase 2: Belajar dalam TimSiswa berpindah dari pengajaran kelompok utuh dan bersiap untuk studi tim. Siswa dipandu LKS untuk menuntaskan materi.
  • Membuat transisi dari pengajaran kelompok utuh ke kerja kelompok
  • Memberi siswa pengalaman bekerja sama dengan teman kelompok dari kemampuan dan latar belakang berbeda.

3

Fase 3: KuisTim-tim siswa berlatih melakukan keterampilan akademik
  • Memberikan latihan keterampilan akademis yang dikerjakan secara individu.

 

4

Fase 4: Penghargaan TimNilai perbaikan dan penghargaan tim diberikan
  • Mengakui prestasi
  • Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar

                                                                                                                       Sumber: Slavin (1994)

Penentuan Skor Dasar Awal

Skor dasar mewakili skor rata-rata siswa pada kuis yang lalu. Apabila guru memulai STAD setelah guru memberikan tiga kuis atau lebih, gunakan skor kuis rata-rata sebagai skor dasar. Apabila tidak memiliki skor seperti itu, gunakan nilai akhir siswa dari semester yang lalu.

Penghargaan Tim

Setelah kuis dilakukan, guru seharusnya mengumumkan skor perbaikan individu dan skor tim. Menghadiahkan sertifikat atau penghargaan lain kepada tim yang memperoleh skor tinggi. Bagi siswa, hal ini akan memperjelas hubungan antara bekerja dalam tim dengan baik dan memperoleh sertifikat/penghargaan.

 

Poin Perbaikan

Siswa mendapat poin untuk tim mereka berdasarkan seberapa besar skor kuis mereka yang melampaui skor dasar mereka. Poin itu dihitung dengan cara berikut:

Tabel 3 Kriteria Poin Perbaikan

Apabila suatu skor kuis adalah…

Seorang siswa mendapat…

Memperoleh nilai sempurna tidak memandang berapa pun skor dasar 30 poin perbaikan
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin perbaikan
skor dasar – 10 di atas skor dasar 20 poin perbaikan
1 – 10 poin  di bawah skor dasar 10 poin perbaikan
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar   0 poin perbaikan

Sumber: Slavin (2004)

Contoh perhitungan skor perbaikan:

Misalkan:

Skor dasar Rohman = 85; skor kuis = 100; maka poin perbaikan Rohman = 30.

Skor dasar Firda = 70; skor kuis = 80; maka poin perbaikan Firda = 20

Skor dasar Mery = 60; Skor kuis = 65; maka poin perbaikan Mery = 10

Pemberian skor tim

Dalam menghitung skor tim, masukkan setiap poin perbaikan siswa pada lembar ikhtisar tim yang sesuai, jumlahkan poin tersebut, dan bagi dengan jumlah anggota tim, bulatkan untuk menghilangkan pecahan.

Contoh:

Nama Tim             : Newton

Anggota Tim

Poin Perbaikan

1

2

3

4

5

6

7

Agus

30

20

Bambang

30

20

Chikita

20

30

Dora

20

10

Skor tim total

100

80

Rata-rata tim

25

20

Penghargaan tim

TIM SUPER

TIM HEBAT

Skor tim lebih ditentukan oleh skor perbaikan daripada skor kuis “mentah”. Perhatikan Gambar di bawah ini:

Siswa Tanggal: 08 April 2013 Tanggal: Tanggal:
Kuis: GLBB Kuis: Kuis:

Skor Dasar

Skor Kuis

Skor Perbaikan

Skor Dasar

Skor Kuis

Skor Perbaikan

Skor Dasar

Skor Kuis

Skor Perbaikan

Agus

90

100

30

Bayu

90

82

10

Chikita

90

74

5

Doddy

85

82

10

Ersal

85

100

30

Firman

85

80

10

Giovani

80

67

5

Herman

80

91

30

Ike

75

90

30

Junaidi

65

70

20

Karmila

60

62

20

Loly

55

40

5

Meskipun penggunaan penguat seperti poin perbaikan itu kontroversial, penelitian menunjukkan bahwa sistem ini berdampak positif pada motivasi (Slavin, 2004).

Penghargaan tim

Ada tiga tingkat penghargaan yang diberikan berdasarkan skor tim rata-rata. Ketiga tingkat itu adalah:

Kriteria (Rata-rata Tim)

Penghargaan

           15 TIM  BAIK
           20 TIM  HEBAT
           25 TIM  SUPER

(Sumber: Arends, 1997)

Seluruh tim dalam kelas dapat memperoleh penghargaan tersebut. Hal ini berarti dalam 1 kelas dapat terjadi lebih dari satu tim mendapat penghargaan TIM SUPER atau TIM HEBAT asal kriteria di atas terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa dalam STAD, tim-tim tidak saling berkompetisi. Dalam memberikan nilai akhir siswa, nilai akhir tersebut sebaiknya didasarkan pada skor kuis siswa sebenarnya, bukan poin perbaikan atau skor tim.

Referensi:

Arends, Richard I. 1997. Classroom Instruction and Management. Boston: McGraw-Hill

Arends, Richard I. 2004. Guide to Field Experiences and Portofolio Development to Accompany Learning to Teach. Boston: McGraw-Hill.

Eggen, P & Don Kauchak. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Edisi Keenam. Jakarta: PT Indeks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s