ADA UN, TIDAK ADA SEKOLAH


Ujian Nasional (UN) memang dari dulu hingga kini akan selalu menjadi momok yang mengerikan bagi siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua. Proses UN membuat siswa melakukan hal-hal di luar akal sehat. Pergi ke dukun, maaf-maafan, pergi ke kuburan orang pintar dan lain-lain. Bukankah ini justru malah merusak tauhid dan akhlak siswa? Pendidikan karakter yang digembor-gemborkan seolah tertutupi dengan tetap diadakannya UN.

kontras1http://kartunmartono.files.wordpress.com

Dalam berita di Okezone.com diungkapkan bahwa Ahok menyatakan: “Harapan saya enggak ada UN. Bikin stres. Ya orang kan mesti dihitung disiplinnya, bukan cuma dari UN. Orang mesti dilihat prosesnya. Kalau sistem pendidikan yang baik itu prosesnya, bukan hasilnya,” tegas Ahok, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/4/2013).

Semua sekolah saat ini, lanjut Ahok, sudah mematok biaya mahal. Dengan membentuk komite sekolah, justru ada pungutan lain yang dibebankan pada orangtua siswa. Beritanya ada di sini.

Setiap menjelang UN berlangsung, Bimbel menjadi ramai dikunjungi siswa. Sekolah juga menetapkan biaya tambhan untuk les. Orang tua juga menyuruh anaknya les privat di rumah. Semua itu yang dikejar tidak lain adalah agar anaknya lulus. Tidak hanya itu, kepala sekolah dan guru yang ketakutan siswanya gak lulus ikut berbuat “nakal”. Memang UN akan selalu menjadi momok mengerikan kalau tetap diadakan. Lha mending tidak ada sekolah, adakan bimbel saja setiap hari agar nanti hasilnya bagus dan memuaskan. Yang perlu diingat adalah proses pendidikan itu penting daripada sekedar hasil.

Proses pendidikan yang setiap hari di sekolah itulah yang terpenting dan sudah seharusnya pemerintah jauh memikirkannya. Bagaimana guru mampu meningkatkan motivasi siswa? Bagaimana guru mampu mengenali bakat/potensi siswanya? Bagaimana akhlak siswanya dan sebagainya.

Pelaksaan UN kemarin memang begitu mengecewakan selain 11 provinsi yang gagal UN. Kejadian dialami Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat yang harus rela menunggu 8 jam demi UN. Siswa di sekolah tersebut melaksanakan UN pada pukul 15.00 WIB. Beritnya ada di sini.

Saya jadi sanksi nantinya apakah siswa MAN tersebut mampu dapat hasil yang memuaskan? Secara logika saja, mental dan daya tahan tubuh mereka terkuras karena harus menunggu 8 jam. Konsentrasi pun mulai buyar lantaran kondisi tubuh mulai menurun.

Disinyalir penyebab keterlambatan soal UN ddiakibatkan salah satu percetakan belum mampu menyelesaikan terget yang ditetapkan.  PT Ghalia Indonesia Printing hingga kini belum mendapatkan sangsi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

untitled-1-copyhttp://kartunmartono.files.wordpress.com

Akhir tulisan ini saya ingin mempertegas bahwa pemerintah memang kudu berbenah dan belajar dari pengalaman. Kalau mengurusi UN saja banyak terjadi kesalahan, bagaimana kalau ngotot melaksanakan Kurikulum 2013 di bulan Juli ini. Saya sangat mengkhawatrikan akan terjadi banyak kesalahan setelah kemarin pihak UNJ dan ITB sempat “menelanjangi” kurikulum tersebut. Semoga pemerintah lebih bijak dalam bertindak.

Salam Pendidikan.

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s