Tasripin: Si Kecil Yang Luar Biasa


0956108-taspirin-di-banyumas-jateng-620X310Sumber: http://edukasi.kompas.com

Kisah ini sungguh memilukan sekaligus menginspirasi anak muda yang sampai saat ini masih banyak di antara mereka yang bergantung pada orang tua. Uang sekolah/kuliah, makanan, minuman, pakaian semuanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh ibu atau pembantu rumah tangga. Ketika banyak diantara pemuda yang merasa nyaman dengan kehidupan yang dijalani, ada beberapa anak muda bahkan bisa dikatakan anak kecil (usia 12 tahun) yang mengalami nasib yang kurang beruntung. Dialah Tasripin.

Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini sudah menjadi kepala keluarga saat ibunya meninggal dan ayah serta kakaknya pergi bekerja ke kalimantan. Dia merawat bahkan menafkahi tiga adiknya yang masih kecil. Tasripin dan adik-adiknya rata-rata putus sekolah, kecuali Darto (adik yang paling kecil) yang sekolah di PAUD. Seorang anak yang berusia 12 tahun mampu mengurusi ketiga adiknya dengan baik dan bahkan mengajarkan mereka tentang sholat, ngaji, dan sesuatu yang dia bisa. Dalam kesehariannya, Tasripin bekerja sebagai buruh tani di sawah dengan upah sehari adalah 10 ribu atau beras.

Kisah inspiratif di atas memang begitu menyayat hati. Di satu sisi sistem pendidikan di kota-kota besar semakin digalakkan, tetapi di sisi lain banyak daerah terpencil yang tak terjamah pendidikan. Berdasarkan informasi dari Kompas (berita ada di sini) bahwa banyak anak putus sekolah dan tak menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di dusunnya. Selain faktor jarak, kemauan untuk belajar warga dusun itu juga masih rendah. Bahkan, di dusun itu hanya ada dua lulusan sekolah menengah atas dan dua lulusan sekolah menengah pertama. ”Ratusan warga masih buta huruf,” kata Warsito Kepala Dusun Pesawahan.

Diketahui bahwa di daerah tersebut, jarak desa ke tempat sekolah sekitar 3 km di tempuh dengan jalan kaki. Keterbatasan tempat pendidikan membuat warga harus rela menempuh pendidikan dengan jarak yang sangat jauh. Saya berharap cita-cita Tasripin sebagai seorang guru tidak menyurutkan langkah dan semngatnya untuk tetap belajar walau tidak di bangku sekolah. Mungkin bisa di katakan, Tasripin sekarang belajar di Sekolah Alam.

Masih ingatkah kisah Bill Gates, Steve Jobs (info), Purdie E. Chandra (info) orang yang sukses dari luar bangku sekolah? Mereka pernah putus sekolah, tetapi berkat life skill yang bagus, maka mereka bisa mengarungi kehidupan. Ini bukan berarti saya menyuruh pembaca untuk tidak bersekolah, masih banyak juga orang2 yang sukses setelah menempuh pendidikan di sekolah. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengasah life skill dalam kehidupan.

Tasripin, si kecil yang luar biasa telah mampu menunjukkan suatu hal yang mengagumkan di usianya yang realtif masih anak2. Ketika teman seusianya bermain dan belajar di sekolah, dia bekerja sebagai buruh tani dan merawat adik-adiknya. Di alam lah, Tasripin mengasah kemampuannya. Belajar dari pengalaman hidup, akan membentuk keterampilan hidupnya (life skills). Bukankah Muhammad SAW kecil dulu juga demikian? Bahkan beliau tidak pernah belajar di bangku sekolah. Semoga Tasripin berhasil meraih cita-cita sebagai guru. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s