Sego Kucing Pertamaku


Setelah pulang dari kampus pukul 18.00, dilanjutkan belajar untuk mengembangkan diri di salah satu bimbingan belajar dan selesai pada pukul 20.45 WIB. Hal itu selalu terjadi di hari selasa dan kamis. Memang benar kata seorang kawan bahwa belajar itu sepanjang hayat dan itu sebabnya kita selalu menjadi siswa ketika mempelajari sesuatu. Tidak peduli apapun profesinya, meskipun menjadi pengajar di perguruan tinggi, belajar pun seyogyanya semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya. Apalagi mahasiswa jaman sekarang sudah jauh berbeda dengan dulu. Mereka bisa belajar melalu internet. Jadi, sebagai pendidik, kita harus selalu mengupdate dan mengupgrade pengetahuan dan wawasan kita.

Sepulangnya saya melewati pasar kelapa dua. Di situ masih ramai orang jualan. Muda-mudi yang sedang asyik menikmati dinginnya kota Tangerang di malam hari. Saya pun tertarik pada sebuah angkringan (dalam bahasa jawa: tempat duduk santai, biasanya sambil mengangkat satu kaki) yang ramai dikunjungi. Ternyata angkringan itu menjual Sego Kucing (Nasi Kucing). Jujur saya sering mendengar nama itu sejak beberapa bulan di Tangerang tetapi tidak pernah memakannya. Dulu waktu di Surabaya, ada namanya Sego Setan yang biasanya jualan di malam hari dan rasanya nikmat sekali dengan porsi nasi yang banyak. Berbeda sekali dengan sego kucing. Porsi nasi yang sangat sedikit sekepal tangan orang dewasa. harganya pun relatif murah. Satu porsi nasi seharga Rp. 1500. Di samping itu, ada beberapa menu tambahan di sana yaitu, sate telur puyuh, sate usus, sate ayam, sate rempelo ati, tahu dan tempe bacem, dan gorengan. Tersedia juga macam minuman seperti teh, wedang jahe, susu jahe, kopi, dan air putih. sego kucing

Saya kurang selera makan nasi tersebut, jadi saya memutuskan hanya makan 1 porsi nasi. Di samping saya juga ada laki-laki yang mengahabiskan 4 bungkus nasi. Rata-rata pembeli minimal memakan dua bungkus nasi. Mungkin terlalu sedikit porsi nasinya, sehingga perlu tambah lagi dan lagi.

Dalam satu bungkus sego kucing tersebut terdapat nasi yang begitu lembut (tidak keras nasinya), sambal, dan ikan asing yang dihancurkan. Untuk menemani makan sego kucing, saya mengambil 2 tusuk sate telur puyuh dan memesan segelas air putih. Tidak butuh waktu lama saya memakan semuanya, karena memang porsinya sangat sedikit. Saya pun segera membayar dengan uang Rp. 5.500. Dengan menahan perut yang masih agak lapar, saya memutuskan untuk pulang.

Sampai di kost, saya masih penasaran kenapa dinamakan sego kucing. Dalam benak saya, apakah ini nasi bekasnya si meong ya? Untuk mengobati rasa penasaran itu, saya membuka laptop dan surfing di internet. Ada beberapa versi asal usul sego kucing. Namun, saya tertarik dengan salah satu asal usul versi yang saya baca.

Suatu kisah, hiduplah seorang keluarga yang sangat miskin. Mereka hidup berdampingan di sebelah rumah orang yang kaya. si miskin yang bekerja sebagai pemulung selalu kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama dalam hal makan. Mereka dalam sehari biasanya makan sekali dan kalau ada rezeki banyak , mereka makan dua kali. Berbeda dengan keluarga orang kaya yang serba kecukupan. Mereka memiliki kucing yang sangat disayang. Saking sayangnya dengan kucing, makan si kucing ini pun tercukupi. Ada nasi dan ikan asing kesukaan si kucing. Tetapi, umur si kucing tidak lama, karena alasan umur inilah, kucing tersebut mati. Untuk menghormati kucing tersebut, orang kaya ini memutuskan memberikan jatah nasi buat kucing pada tetangga mereka yang miskin dengan harapan si miskin mau mendoakan agar arwah kucing tenang di alam sana. Karena setiap hari, si miskin makan nasi dan ikan asing, ada perasaan bosan memakannya. Mereka memutuskan untuk menjualnya dan hasil jualan tersebut di belikan nasi dan menu makan yang lain. Karena rasanya enak dan harganya yang murah, maka lambat laun, sego kucing ini terkenal namanya.

Begitulah cerita saya makan perdana sego kucing. Rasa penasaran ini sudah terobati. Dan mungkin ini kali pertama dan kali terakhir, saya memakannya. di malam ini, saya mulai berpikir akan kekayaan budaya dan masakan di Indonesia. Mungkin seuatu hari nanti akan muncul sego sapi, sego tuyul, dan sego2 yang lain.

Regards

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s