Keterampilan Metakognitif Membantu Siswa Belajar


Metakognitif (metakognisi) adalah pengetahuan tentang belajarnya diri sendiri (Flavell, 1985; Graner dan Alexander, 1989 dalam Nur, 2008). Dapat dikatakan bahwa keterampilan metakognitif adalah keterampilan dimana seseorang tahu cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Contoh dari keterampilan metakognitif sendiri adalah keterampilan berpikir dan keterampilan belajar.

berpikir-4

Sebelum siswa mampu menerapkan metakognisi untuk membantu belajarnya, terlebih dahulu mereka diajarkan strategi-strategi untuk menilai pemahaman mereka sendiri, menghitung berapa waktu yang mereka perlukan untuk mempelajari sesuatu, dan memilih rencana yang efektif untuk belajar atau memecahkan masalah.

Misalnya, seorang siswa sedang membaca buku. Untuk memahami ide pokok dalam 1 paragraf, siswa tersebut merasa kesulitan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengulangi membacanya lagi dengan tempo yang lebih lambat. Atau beberapa siswa yang lain memilih menggunakan strategi menggaris bawahi kata-kata yang penting dalam 1 paragraf tersebut. Keterampilan mengatur diri sendiri dalam gaya belajar yang sesuai dengan dirinya adalah keterampilan metakognitif.

Menurut Zimmerman dan Schunk (1989, dalam Nur, 2008) menyatakan bahwa metakognitif adalah belajar bagaimana cara mengetahui ketika Anda tidak memahami sesuatu dan bagaimana cara memperbaiki diri sendiri. Startegi metakognitif yang lain adalah kemampuan untuk memprediksi apa yang cenderung akan terjadi atau mengatakan mana yang dapat diterima oleh akal dan mana yang tidak.

Gaya dan kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran berbeda-beda. Hal ini dibutuhkan strategi efektif agar siswa dapat memahami isi materi tersebut. Sebagian siswa berkembang cukup memadai keterampilan-keterampilan metakognitifnya dan sebagian siswa lain tidak berkembang. Mengajarkan strategi metakognitif kepada siswa dapat membawa ke arah peningkatakan hasil belajar mereka secara nyata.

Perlu diperhatikan, sering kali seorang guru menyuruh siswa untuk selalu giat belajar apalagi kalau mendekati UAS, tetapi banyak guru yang lupa untuk mengajarkan bagaimana cara-cara belajar yang efektif. Begitupun juga orang tua di rumah. Hal ini dirasa akan menambah tekanan dan psikologis siswa terganggu. Bagi anak yang sudah berkembang keterampilan metakognitifnya memang itu bukan sebuah kendala, tetapi bagaimana dengan siswa yang belum berkembang keterampilan metakognitifnya? Banyak siswa yang mendapat predikat “nakal/bodoh/pemalas” dari guru nya gara-gara nilainya jelek. Lebih jauh dari itu, guru tidak mengetahui betapa sulitnya siswa tersebut memahami isi materi dan belum mengatahui cara-cara belajar yang efektif. Dengan guru memberikan cara-cara belajar yang efektif, siswa akan menerapkan cara efektif yang mana yang sesuai dengan kemampuan dirinya dalam memahami isi materi.

 

Sumber:

Slavin, Robert E. 1997. Educational Psychology Theory and Practice: Cognitive Theories of Learning Basic Conceps. Allyn and Bacon.

Nur, M. 2008. Teori-Teori Pembelajaran Kognitif Cetakan 3. Surabaya: PSMS Unesa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s