Cita-Cita yang Hilang


22 tahun yang lalu saat masih duduk di sekolah dasar, setiap ditanya tentang cita-cita, pasti dan selalu sebagai anak kecil (jawa: bocah) jawabnya kalau gak dokter, pilot, polisi. Begitupun juga diriku, sampai menginjak SMA, cita-cita tetap sama yaitu sebagai seorang dokter. Hingga cita-cita itu hilang dalam pikiran setelah tahu bahwa untuk menuju ke sana dibutuhkan biaya yang besar. Inginku kejar lagi, berusaha lebih giat lagi, tetapi orang tua berkata: cukup sampai di sini saja pendidikanmu, sebaiknya kamu mencari kerja seperti kebanyakan pemuda di kampung. Kami tak punya biaya membiayai kuliahmu, apalgi kamu minta ke dokter. Merenung……….Curhat pada Sang Penguasa Alam……..tafakkur……dan terlelap tertidur…………

2345

Jawabn doa tiap hari kini mulai datang, seolah Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk menolong hambaNya yang sangat menginginkan belajar dan mencari ilmuNYA di bumi. Dia seorang sahabat yang tanggal lahir, bulan dan tahunnya sama denganku, beda di waktu saya. Saya sore dan dia malam. Dia yang mengajakku kuliah di Universitas negeri yang ada di surabaya, walau saat itu dia mengundurkan diri dari kuliah saat semester 2 karena diterima PNS. Perjuangan terpaksa kulakukan sendiri, sampai lulus. Dulu setiap mahasiswa yang aktif di organisasi punya prinsip kalau semester 5 semua biaya hidup ditanggung sendiri tanpa melibatkan orang tua bahkan bisa memberi mereka. Kami berlomba dan saling mendukung. Kerja nya sederhana yaitu sebagai guru privat ke rumah-rumah. ….

Menyenangkan…….kuliah kerja dan berorganisasi………kenangan yang tak terlupakan…..sampai tiba saatnya menjadi pendidik..

 

Waktu begitu cepatnya, tulisan ini hanya mngenang masa-masa perjuangan di kota pahlawan. 7 tahun di sana, semua pilu, duka, suka campur aduk jadi satu atas nama mahasiswa. Menjelang ramadhan selalu menyenangkan. saya yang sebagai pengurus di masjid kampus dan juga teman-teman selalu senang menyambutnya.

Tidak hanya belajar, kami juga mengabdi di masjid tersebut…menjadi tukang parkir, tukang sapu, tukang adzan, dan bahkan imam…

Kenangan—–tinggal kenangan yang indah untuk dilupakan…Benar adanya kalau berakit ke hulu berenang ke tepian.

PERAHU ATAU KAPAL DIBUAT BUKAN UNTUK BERDIAM DI DERMAGA, TETAPI UNTUK MENERJANG OMBAK DI LAUT.

“Tuhan telah menhadiahkan kado terindah dalam hidupku berupa orang tuaku. Semoga mereka diberi keberkahan hidup dan aku dapat membanggakan mereka”

Tidak uang yang banyak yang mereka berikan, tetapi lantunan doa setiap malam dan semangat yang tak pernah lepas dari mulut yang tak pernah keluar ucapan ganas (baca: kasar).

 

Dan kini……..aku adalah seorang pendidik. …..dan ternyata rencana Tuhan itu lebih indah dari rencanaku. . . . .

Bahagia sekali aku melakukannya. dan kuanggap ini semua bukan kerja, tetapi kesenangan. ya seperti kata Thomas Alva Edison penemu lampu. Lakukan semua dengan dasar kesenangan.

 

Cita-cita yang hilang dariku, akan kutanamkan pada diri murid-muridku. Siapa tahu diantara mereka nanti ada yang jadi dokter. Dan aku akan disebut GURUNYA DOKTER……..Nice🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s