Sit Around Doing Nothing = Cangkruk. Benarkah?


Kata Cangkruk mungkin masih terasa sangat asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi bagi masyarakat di Jawa Timur khususnya arek-arek Suroboyo dan sekitarnya, cangkruk merupakan istilah yang sangat populer dan merakyat. Menurut kamus Indonesia – Inggris, kata cangkruk = sit around doing nothing. Saya pribadi kurang begitu setuju dengan terjemahan ini.canges

Mengawali kisah saya yang suka ngopi di warung sejak SMA. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan di pondok dulu yang suka begadang. Kebiasaan itu juga sebagai bentuk i’tibar pada romo kyai yang juga suka minum kopi di warung. Warung kopi langganan romo kyai adalah warung kopi Cak Tho (depan ramayan Gresik), begitulah saya mengingatnya. Terkadang romo kyai mengajak salah seorang santri untuk sekedar menemani aktivitas minum kopi dan makan gorengan. Kebiasaan cangkruk ini akrab sekali bagi warga di Jawa Timur. Di Gresik hampir setiap sudut kota/desa ada warung kopi yang biasanya dipake kumpul2 warga.

Cangkruk dikenal sebagai suatu istilah yang menggambarkan aktifitas diskusi, nongkrong bareng, ngobrol bareng. Para pelakunya juga tidak memandang usia, bisa para ABG yang masih mencari jati diri, anak-anak kuliahan, pengangguran, bapak-bapak yang sedang ronda, atau gabungan dari semuanya. Tema obrolan cangkruk pun bermacam-macam, tentang pemilu, kenakalan remaja, narkoba, pengajian kampung, kenaikan harga bawang putih, korupsi di pemerintahan dan lain-lain. Saya dulu memandang aktivitas cangkruk sebagai aktivitas yang dilakukan oleh orang yang kurang kerjaan. Saya juga menemui bahwa sebagian pandangan masyarakat terhadap cangkruk juga bermacam-macam. Buat para pelaku cangkruk jelas positif minimal buat menghilangkan stress. Pandangan yang negatif juga ada. Tapi tidak semua cangkruk‘an berujung negatif. Hal ini lah yang saya temukan dari sosok romo kyai yang suka pergi ke warung kopi sehabis mengaji di waktu subuh dan sore hari. Beliau sambil minum kopi dan makan gorengan, juga menyampaikan kata2 hikmah pada setiap orang yang ada di warung. Obrolan yang semula kurang bermanfaat, setelah ada romo kyai, aktivitas cangkruk di warung cak Tho jadi lebih bermanfaat. Mereka menjadi sungkan apabila ngobrol di warung dengan obrolan yang tidak ada guna dan manfaat. Alhasil warung kopi di Caak Tho sebagai pusat mencari info pengajian yang ada di gresik.

Apakah seorang yang suka kopi, pasti suka merokok? Hal ini juga waktu saya masih SMP terus terpikirkan. hehehe. Sehingga saya sangat menjauhi nya. Apalagi saya waktu itu sering mengamati warung kopi yang ada di desa, kebanyakan orang2 minum kopi sambil merokok. Hal ini tidak saya temukan pada diri romo kyai. Beliau minum kopi sekedarnya dan tidak merokok. Beliau juga suka pergi ke pasar. Semua aktivitas ini mengikuti sang guru yaitu romo kyai Romly. Dan kini saya sangat menyukai kopi dan tidak merokok.

Dari ide cangkruk yang bermanfaat inilah saya memberi nama blog ini dengan Cangkrukan Pendidikan Agus Rohman. Saya berharap pandangan masyrakat bahwa cangkruk itu lebih ke arah negatif bisa berubah. Dalam blog ini, terdapat diskusi tentang pendidikan dan fisika. Semoga cangkrukan bukan sekedar duduk melingkar tidak mengerjakan apa-apa (sit around doing nothing).

Membaca-Menulis-Meneliti

Tangerang, 24 Maret 2013

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s