Pemuda Gak Butuh Nasehat, Tapi “Kepercayaan”


Konon katanya, usia remaja adalah usia di mana anak manusia mencari jati dirinya. Jiwa muda identik dengan pembaharuan. Masa SMA – Kuliah adalah masa yang indah sebelum ‘terjun’ ke masyarakat. Di masa ini banyk sekali gejolak hati dan pikiran untuk selalu berinovasi demi mencari “siapakah saya”. Pemuda juga dikenal dengan idealisme yang tinggi, mereka dalam usia ini sangat sulit untuk dinasehati.

Mantan Direktur Umum Perusahaan Listrik Negara itu menilai, menasihati generasi muda, khususnya kalangan remaja, sudah tidak relevan lagi. “Karena saya tahu Anda tidak akan bisa dinasihati. Anak muda pasti akan melawan,” kata Dahlan, saat menjadi pembicara dalam kuliah umum di SMA Negeri 3 Yogyakarta, Rabu, 3 Oktober 2012. Ungkapan spontan Dahlan itu pun langsung disambut riuh para siswa. Menurut Dahlan, untuk mendekati anak yang beranjak remaja, bukan nasihat atau wejangan yang dibutuhkan, tapi sebuah kepercayaan (Tempo.com)

demo-kartun

Sumber: http://muhammadjanu.blogspot.com

Orang tua dan guru diharapkan  mengetahui hal ini sehingga mereka tidak terkesan selalu dipengaruhi orang tua segala keputusannya. Jadikan mereka “super hero” yang mempunyai kekuatan dan siap mengubah dunia dengan pemikirannya. Seperti yang dikatakan Presiden pertama Indonesia  “berikan saya 10 pemuda yang berkobar hatinya, saya bersama mereka akan menaklukkan dunia”. Berikan lah mereka kepercayaan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu. Jika setelah diberikan kepercayaan mereka belum mampu melaksanakan, mereka akan belajar dari pengalaman. Bukankah waktu kecil dulu kita seperti itu? Seorang anak kecil yg mainan api, sebaiknya orang tua tidak melarang, tetapi cukup diperhatikan saja. Apabila api itu telah melukai anak itu, maka dia akan menjauhinya tanpa di suruh lagi. Begitu juga dengan pemuda, mereka akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Kesalahan dan kegagalan bukan berarti mereka tidak mampu, tetapi ini adalah sebuag proses untuk mencapai jati dirinya.

Penting juga memberikan kepercayaan pada anak didik di kelas. Sebagai pendidik, tidak dianjurkan selalu mendikte siswa. Karena hal ini dapat mematikan kreativitas siswa. Berikan siswa kepercayaan dan guru dalam hal ini sebagai teman belajar. Perlu diperhatikan bahwa yang belajar dalam kelas adalah siswa bukan guru, jadi biarkan mereka aktif untuk mengkonstruk pengetahuan. Ketika mereka berhasil dalam mencapai hal itu, maka berilah apresiasi agar mereka selalu termotivasi untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Sebuah lagu yang penuh makna dari seorang legenda yang berjudul:

Krisis Pemuda (Iwan Fals)

Bermacam macam tuduhan yang menimpa pemuda.  Bermacam macam sindiran menyelimuti hidup pemuda.
Tak ada yang mau mengerti akan segala kemampuannya dan tak ada yang mau peduli. Mengapa sampai jadi korban. Kelinci kelinci percobaan. Semua sibuk dengan kekayaan. Semua sibuk dengan alasan. Seakan melepas kasih sayangnya.
Dimana kusumbangkan tenaga. Demi laju bangun negara. Tapi tak sempat ku berbicara. Lowongan kerja tak kudapatkan.
Sistim koneksi Sistem famili. Merajalela di setiap instansi.
Sistim koneksi Sistem famili. Merajalela di setiap instansi
Oh oh oh oh Krisis pemuda Melanda negeri tercinta (Indonesia)
Oh oh oh oh Krisis pemuda Melanda negeri tercinta (Indonesia).

Akhir tulisan ini saya kembali menegaskan bahwa:

PEMUDA BUTUH DIPERCAYA, SAYANGI MEREKA. TETAPI SEBAGAI PEMUDA JUGA HARUS TAHU DIRI, JANGAN BERSIKAP ‘GARANG’ PADA YANG TUA. HORMATI ORANG YANG LEBIH TUA. NISCAHYA KEDAMAIAN TERCIPTA.

Salam Persahabatan

Agus Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s